Peringatan Hari Tari Sedunia di Museum Kars Wonogiri

Tak hanya sekedar bergerak sesuai irama musik pengiring, menari adalah menyelaraskan hati dengan makna yang ingin disampaikan penari. Para pakar tari mendefinisikan seni tari sebagai ungkapan ekspresif jiwa manusia dalam gerak-gerak yang indah dan ritmis.

Dikutip dari National Geographic, hari tari dunia pertama kali dicanangkan di tahun 1982 oleh lembaga tari internasional CID–Counseil Internasional de la Danse. Tujuannya adalah untuk mengajak seluruh warga dunia berpartisipasi untuk menampilkan tarian-tarian negara mereka yang jumlahnya beragam.

Di tahun 2003, Professor Alkis Raftis yang saat itu menjadi Presiden CID mengatakan bahwa pelestarian budaya menari masih sangat minim. Tidak ada lembaga atau organisasi yang mendanai bidang seni tersebut secara memadai, tidak ada pendidikan seni tari, sehingga ketertarikan warga untuk menekuni bidang tari masih sangat rendah. Bersama-sama dengan UNESCO, CID menjadi wadah bagi para warga dunia untuk mementaskan pertunjukan tari dari budaya mereka. Dengan begitu diharapkan semua generasi muda dapat terus melestarikan budaya melalui seni tari.

Dalam rangka memeringati Hari Tari Sedunia yang jatuh tiap 29 April, berbagai macam pagelaran tari dibuat di seluruh dunia, demikian juga di Indonesia, salah satunya adalah acara yang diberi tajuk Solah Raga Gayuh Rasa. Acara yang digagas oleh Sanggar Seni Shaka Budaya dan pemuda di Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri ini berlokasi di halaman pintu masuk Museum Kars Wonogiri.

Menjelang tengah hari, tiga penari mulai menari. Mereka akan menari selama 12 jam tanpa jeda hingga pagelaran tari ini selesai, tiga penari tersebut adalah Nanda Fellana, Oxananda, dan Novian Dwi Yoga. Selain 3 penari utama tersebut, akan tampil juga 100an penari dari anak-anak sampai dewasa dengan membawakan puluhan jenis tarian Nusantara, diantaranya Tari Gambyong, Tari Kenong Wonogiren, Tari Siluet Indonesia, Tari Kerinci, Tari Golek Manis, Tari Midat Midut, Tari Kelinci, Tari Payung,Tari Lilin, Tari Tor Tor, Tari Merak Subal, Tari Ketek Ogleng Gunung Sewu, dan ditutup dengan Tari Reog

Tari Merak Subal di Peringatan Hari Tari Sedunia di Museum Kars, Pracimantoro, Wonogiri

Menurut Faris Wibisono -salah satu panitia acara dan juga penggiat budaya Wayang Beber- mewakili ketua panitia sekaligus pemilik Sanggar Seni Sakha Budaya, Siti Fatonah, tujuan diadakannya acara ini adalah sebagai embrio tumbuhnya kembali kebudayaan akar rumput khususnya di Pracimantoro dan Wonogiri. Desa sebagai lingkup terkecil struktur bermasyarkat justru adalah garda depan pembangunan karakter bangsa, karena masih memiliki unggah-ungguh, tata krama, kesenian dan kearifan lokal lainnya.

Dari 100an penari yang tampil, semuanya adalah penari lokal Wonogiri, sebagian besar dari Kecamatan Pracimantoro yang berlatih di Sanggar Seni Sakha Budaya. Menurut Faris, tidak ada rasa malu menampilkan penari-penari pemula dari usia sekolah dasar hingga sekolah menengah ata, justru  hal ini memberi kelebihan dalam memperkokoh kerukunan dan kesatuan warga desa.

Solah Raga Nggayuh Rasa, Dari Desa Membangun Bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *