Pada umur 9 tahun saya pergi ke rumah Pak Hadi Carito , seorang penatah terkenal di Kampung Kepuhsari. Saya bilang “Pak saya ingin nyantrik (belajar) wayang.” – Pak Dwi Sunaryo , Seniman Tatah Sungging Kepuhsari

Di Kampung Wayang Kepuhsari hampir tidak ada yang tidak mengenal Pak Dwi Sunaryo. Menyebut namanya di lingkungan Kepuhsari seakan membawa setiap orang yang mendengarnya kembali kepada kenangan masa kecil. Pak Guru. Begitulah beliau dipanggil. Selama lebih dari 60 tahun profesi sebagai penatah sekaligus pendidik senantiasa dilakoninya dengan penuh rasa cinta. Bahkan hingga kini, di usia yang  hampir menginjak 77 tahun beliau masih aktif menjadi guru honorer di SMPN 2 Manyaran sebagai pendidik mata pelajaran muatan lokal Tatah Sungging.

Senyum dan semangat. Hal itulah yang selalu terasa setiap kali berjumpa dengan beliau. Pribadinya yang ramah dan bersahaja rupanya mampu menjadi penempa keterampilan yang  sangat mumpuni bagi banyak orang. Tak terhitung berapa siswa yang telah di didik, baik secara formal melalui sekolah maupun informal seperti di sanggar miliknya. Tidak hanya di lingkungan sekitar, beliau juga berkesempatan untuk mendidik keterampilan bagi anak anak di luar kota seperti di Kabupaten Sukoharjo maupun mendidik anak-anak putus sekolah di wilayah perbatasan Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Klaten. Semua dilakukannya dengan senang hati, asalkan seni tatah sungging masih bisa melestari.

Pak Dwi Sunaryo masih aktif menatah wayang kulit sampai sekarang.

Popularitas seni wayang kulit ternyata mampu menjadi magnet yang kuat bagi banyak orang, begitupun bagi Pak Dwi Sunaryo. Keberagaman tokoh serta kekuatan cerita dari masing-masing kisah sedikit banyak berhasil meningkatkan citra wayang sebagai kesenian yang sarat akan pesan moral sekaligus dapat dinikmati oleh semua kalangan. Berangkat dari hal tersebut, pada umur 9 tahun Pak Dwi Sunaryo memberanikan diri belajar kepada 4 penatah senior Kepuhsari yaitu Pak Gunarto Pawiro, Pak Hadi Carito, Pak Kasi, dan Pak Surahno. Keempat penatah tersebut merupakan keturunan ke-18 dari Ki Panjang Mas, seorang dalang terkenal Jawa yang beberapa keturunannya masih banyak bermukim di Kepuhsari sebagai perajin wayang sekaligus dalang.

Setelah ilmu dirasa cukup, pada tahun 1957 beliau memantapkan untuk menjadi perajin mandiri di rumah orangtuanya. Berbekal ilmu yang didapat sebelumnya, Pak Dwi Sunaryo yang lahir pada tahun 1941 ini juga melatih 3 orang karyawannya untuk bisa menatah wayang. Ketekunannya membuahkan hasil. Berbagai pesanan dari dalang terkenal maupun mancanegara mulai banyak berdatangan. Akan tetapi tidak hanya hasil materiil, beliau juga berkesempatan untuk mempersunting Bu Purwati, putri dari salah satu penatah senior Kepuhsari.

Seiring berjalannya waktu, banyak orang akhirnya tertarik belajar kesenian tatah sungging kepada beliau.  Perlahan tapi pasti pada tahun 1980-an Pak Dwi Sunaryo dan perajin Kepuhsari mendapatkan masa keemasannya. Beberapa dalang seperti Anom Suroto bahkan seringkali meminta dibuatkan wayang khusus kepada Pak Dwi Sunaryo. Tidak hanya itu, beberapa murid beliau juga diangkat menjadi penatah pribadi bagi dalang terkenal sementara beliau memilih untuk tetap mengabdi sebagai guru di Kepuhsari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *