Retno Lawiyani, Kartini dari Kepuhsari

Secara terminologi, perempuan berasal dari kata Per-Empu-Anempu yang berarti mampu sedangkan per dan an konjungsi yang jika disambungkan Perempuan adalah seseorang yang mampu. Dengan keyakinannya, perempuan mengambil hak dan tanggung jawab yang sama dengan lawan jenisnya dalam aspek kehidupan sosial. Perempuan bisa dikatakan lebih perasa dibandingkan laki-laki. Namun sifat perempuan yang lebih perasa bukanlah suatu kelemahan, justru itulah yang membuat perempuan lebih peka secara mendalam tentang situasi dan kondisi di sekitarnya. Seperti halnya Retno Lawiyani, perempuan dari Desa Kepuhsari Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri ini menjadi garda depan majunya desa kelahirannya, Kepuhsari, desa yang kini di kenal sebagai Kampung Wayang Kepuhsari (sentra industri pembuat wayang kulit).

Ibu Retno, sapaan akrabnya, selalu bersemangat ketika diminta menceritakan wayang dan sejarah Desa Kepuhsari. Pribadinya yang ramah dan bersahaja, membuat setiap orang yang mengenal selalu menaruh kagum atas keuletannya dalam melestarikan karakter wayang melalui kesenian lukis kaca. Wayang merupakan bagian jiwanya. Sesederhana itulah Ibu Retno memilih wayang sebagai ciri khas  bagi karyanya. Dilahirkan di lingkungan perajin wayang kulit, membuat Ibu Retno menyadari bahwa wayang tidak hanya menjadi sebuah simbol tradisi leluhur tetapi juga menjadi tantangan bagi kegiatan pelestarian ke depannya. Berbekal kemauan yang kuat sekaligus bakat sedari kecil, Ibu Retno pun belajar bagaimana cara melukis wayang baik dalam sanggar maupun pendidikan formal.

15 tahun berkarya bukan berarti tanpa halangan. Banyak hal yang telah dilalui Ibu Retno hingga menjadi seniman handal. Mulai dari menawarkan karyanya satu per satu serta kritikan dari berbagai pihak, dianggap oleh Ibu Retno sebagai batu loncatan untuk introspeksi dan meningkatkan kualitas. Kesabarannya tidak sia-sia. Bersama Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Kampung Wayang Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Ibu Retno berhasil menuai prestasi. Menjadi salah satu Desa Wisata Teladan di tingkat Provinsi Jawa Tengah hingga menerima kehormatan sebagai produsen undangan serta souvenir resmi untuk Asian Games 2018 menjadi buah manis yang berhasil dicapai.

Berkarir di desa sendiri tidak lantas membuat Ibu Retno lupa diri. Sebagai seorang ibu dari seorang putra, Ibu Retno juga bertanggung jawab atas rumah tangga. Dukungan suami dan keluarga sekitar menjadi semangat tersendiri bagi Ibu Retno dalam membagi waktu. Tidak hanya mengurus rumah tangga, Ibu Retno juga aktif dalam mendorong putra semata wayangnya, Bimo dan anak-anak sekitar untuk ikut serta melestarikan kesenian lokal. Bersama teman-temannya, Bimo ikut aktif dalam grup kesenian Reog dan bermain menjadi salah satu tokohnya.

Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dari seorang ibu, anak akan belajar bagaimana menjadi manusia yang dapat memanusiakan manusia. Ibu Retno telah memberi contoh bahwa menjadi besar bukan berarti melupakan tanggung jawab utama di dalam keluarga. Tetap rendah hati dan sederhana adalah kunci bagi kesuksesan bersama. Mengutip kata Ibu Bupati Wonogiri, Verawati Joko Sutopo,”Kebanggaan seorang ibu adalah melihat keluarganya terawat dengan baik.”. And she did it!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *