Pak Sutar, usia bukan halangan untuk belajar

Usia boleh jadi hanyalah sebatas angka. Tapi dalam hal semangat, setiap orang haruslah tetap berjiwa muda. Pak Sutarno, contohnya. Hidup dalam lingkungan pedesaan yang sederhana membuat pribadinya selalu terlihat gembira. Sambutannya yang hangat serta senyumnya yang bersahabat seolah berhasil membuat setiap wisatawan terkenang dan ingin kembali datang.

Pak Sutar, begitulah kami memanggilnya. 43 tahun berkarya menatah wayang membuat beliau sedikit banyak paham dalam perkembangan wayang Kepuhsari. Memulai belajar tatah sungging pertama kali sejak kelas 4 SD menjadikan Pak Sutar kecil semakin bersemangat untuk membuat karya wayang lain. Berkesempatan melanjutkan di Sekolah Pembangunan pada tahun 1975, beliau semakin yakin menjadikan tatah sungging sebagai mata pencaharian hidup ke depan. Di bawah bimbingan salah satu tokoh pengembangan wayang Kepuhsari, Bapak Sukar Hadi Prayitno, pada tahun 1980-an Pak Sutar memutuskan untuk mandiri. Berbagai pesanan berdatangan melalui Bapak Sukar Hadi Prayitno sehingga perlahan tapi pasti Pak Sutar mulai memetik hasil dari usaha belajarnya selama ini.

Pada kurun waktu 1980-1995, industri tatah sungging wayang kulit Kepuhsari mengalami masa kejayaannya. Pak Sutar pun turut menjadi saksi ketika menemani Bapak Sukar Hadi Prayitno dalam memasarkan berbagai produk wayang, baik dalam tingkat lokal maupun nasional. Berbagai pameran diikutinya, salah satunya hingga ke Gedung Sarinah Thamrin di Jakarta. Tidak hanya dalam wujud wayang kulit saja, bersama Bapak Sukar Hadi Prayitno, Pak Sutar juga berkesempatan untuk ikut merancang pembatas kayu jati berbentuk wayang yang masih digunakan hingga kini di ruang Bupati Wonogiri. Akan tetapi, seiring dengan krisis moneter pada tahun 1997 dan ditambah dengan momentum meninggalnya Bapak Sukar Hadi Prayitno, industri wayang Kepuhsari mengalami penurunan. Permintaan pesanan mulai menurun, hingga satu persatu perajin mencoba peruntungan pada pekerjaan lain.

Melihat hal tersebut, Pak Sutar tidak tinggal diam. Dengan tekad yang kuat beliau mulai mendidik satu per satu orang yang ada di sekitarnya. Hingga kini, kurang lebih 15 orang telah berhasil ditempanya sebagai penatah ulung yang jasanya telah digunakan oleh berbagai dalang besar seperti Ki Anom Suroto dan Ki Mantep Sudarsono. Selain itu, beliau juga turut aktif menggerakkan koperasi perajin yang mana koperasi ini bergerak dalam pemberian bantuan kepada perajin wayang Kepuhsari. Namun sayang, koperasi ini sudah tidak aktif lagi dikarenakan keterbatasan kepengurusan.

Pak Sutar mengajari relawan cara menatah wayang kulit

Banyak halangan dalam melestarikan wayang di Kampung Wayang Kepuhsari. Akan tetapi, semangat beliau sungguh tidak pernah berhenti. Seiring dengan pembentukan desa wisata pada tahun 2014, semangat Pak Sutar pun muncul kembali. Dengan percaya diri, Pak Sutar berinisiatif menjadi salah satu trainer tatah sungging di Kampung Wayang Kepuhsari.

Mulai dari belajar Bahasa Inggris hingga aktif dalam setiap rapat pokdarwis dilakoninya dengan senang hati. Tak heran apabila dalam beberapa kesempatan, wisatawan asing kerap dibuat terkagum-kagum dengan keramahan dan usaha Pak Sutar untuk menjelaskan wayang dengan bahasa Inggris. Ketika ditanya, bagaimana caranya agar terlihat luwes di depan wisatawan walau tak lancar berbahasa Inggris, beliau hanya menyarankan untuk menikmati saja setiap proses yang ada agar wisatawan merasa nyaman untuk belajar wayang.

Pak Sutar membuktikan bahwa senyum dan keramahan adalah bahasa universal yang bisa dimengerti semua umat manusia. Baginya usia bukan halangan seseorang untuk maju, asalkan ada kemauan untuk terus mencoba dan belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *