Bambang Riyadi, Penerus Generasi Dalang Tertua Kepuhsari

Belajar dan mengajar, hal itulah yang kini menjadi aktivitas harian Bambang Riyadi. Mas Bambang, sapaan akrabnya, merupakan salah satu keturunan ke-20 dari seorang dalang ternama Jawa yang bermukim di Kampung Wayang Kepuhsari, Manyaran. Dengan nama besar leluhur yang disandangnya, Mas Bambang justru semakin bersemangat untuk terus melestarikan kesenian tatah sungging wayang kulit. Hingga akhirnya, profesi guru menjadi sebuah pilihan yang beliau ambil dalam hidupnya. Semata-mata demi melihat kesenian wayang dapat terus melegenda.

Layaknya seorang guru, keseharian Mas Bambang tidak jauh dari dunia anak-anak. Aktif mengajar di SMAN 1 Wuryantoro dan SMPN 2 Manyaran tak membuat dirinya lantas berpangku tangan. Berbekal pendidikan seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Surakarta dan Pendidikan Seni Rupa pada tingkat universitas di UNS, bersama istrinya, Siti Nur Khotimah, Mas Bambang semakin memantapkan diri untuk membuka sebuah sanggar bernama Sanggar Wayang Kayon. Selain berfungsi sebagai workshop dan gallery pribadi, sanggar ini banyak didatangi oleh anak didiknya yang ingin belajar lebih dalam tentang tatah sungging wayang kulit. Dalam beberapa kesempatan, seringkali kami menjumpai anak-anak usia sekolah yang sedang belajar menggambar wayang, baik dengan Mbak Siti maupun dengan Mas Bambang sendiri.

Selain menjadi seorang pendidik, Mas Bambang juga patut disebut sebagai seorang seniman. Berbagai karya telah dibuatnya, baik untuk dijual maupun dikoleksi secara pribadi. Memulai mempelajari seni tatah sungging wayang kulit semenjak kelas 2 SD benar-benar membuatnya begitu terampil dalam membuat berbagai karakter wayang terutama wayang Mangkunegaran. Selain itu, pendidikan formalnya yang menggeluti bidang seni rupa semakin menambah keterampilannya dalam hal menyungging (mewarnai) wayang.

Menggunakan media pemasaran online berupa Facebook dan Instagram membuat karyanya makin diminati oleh banyak orang. Berbagai pesanan banyak berdatangan dari pulau Jawa bahkan hingga ke mancanegara seperti Amerika, Taiwan, dan Korea. Buah karyanya pun cukup manis. Pada tahun 2015 beliau berkesempatan untuk ikut serta dalam pameran kebudayaan di Cina, memperkenalkan wayang sebagai produk budaya asli Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *