Desa Kepuhsari merupakan bagian wilayah Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, yang terletak di sisi  selatan wilayah Kabupaten Wonogiri dengan jarak dari ibu kota kabupaten kurang lebih 30 km.  Selain bisa diakses dari Wonogiri, desa Kepuhsari juga  bisa diakses secara langsung dari   Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Kecamatan Semin Kabupaten Gunungkidul, karena secara administratif Kecamatan Manyaran berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul, Propinsi DIY.

Desa Kepuhsari memiliki luas 1.556, 3445 Ha dengan jumlah penduduk sekitar 6.080 jiwa ini berada di ketinggian 173 dpl.  Dari aspek pengunaan tanah,   749 Ha berupa pekarangan dan bangunan, 519 Ha berupa tegalan, 313 Ha sawah tadah hujan, da hanya 15 Ha sawah dengan pengairan sederhana.

Desa Kepuhsari memiliki potensi yang unik, spesifik dan khas, yaitu sebagai sentra pengembangan seni tatah sungging (wayang kulit) di Kabupaten Wonogiri, bahkan di Jawa Tengah. Secara historis berkembangnya seni tatah sungging di desa ini tidak terlepas dari pengembangan seni pewayangan pada abad ke 17, seperti diungkapkan oleh Bapak Dwi Sunaryo:

Di Desa Kepuhsari  terdapat  keturunan dalang pertama, yaitu Ki Kondobuono, yang kemudian melahirkan ki Gunowasito, dimana ki Gunowasito ini memiliki  anak ki Prawirodiharjo yang memiliki 8 (delapan) anak, dimana semuanya merupakan dalang, tiga diantaranya tinggal di Kepuhsari. Mertua Saya merupakan salah satu keturunan ki Gunowasito, dulu saya berlajar ke mertua Saya selama 2 tahun, sampek bisa terus dipek mantu (dijadikan menantu), saya di warisi wayang 7 buah dan harus melengkapinya sampai satu set, itu wasiat mertua saya, jadi akhirnya saya mengajari warga Kepuhsari untuk belajar wayang, awalnya pada tahun 1970an satu dua orang saja tapi sekarang hampir setiap rumah punya bakat seni, buat wayang atau yang lain seperti gamelan, reog, nyungging (mewarnai) kaca.

Terlepas dari kebenaran cerita sejarah tersebut, namun secara faktual seni ini telah menjadi urat nadi seni budaya masyarakat, dan bisa berkembang selaras dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakat, artinya perkembangan seni tatah sungging selain diikuti dengan berkembangnya seni lain yang berhubungan dengan tatah sungging, seperti seni pedalangan dan gamelan, namun lebih dari itu dari seni tatah sungging inilah sebagian besar masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi.

Upaya-upaya mempertahankan eksistensi nilai-nilai seni tatah sungging ini dilakukan dengan bersama-sama oleh masyarakat Kepuhsari. Dahulunya penduduk desa ini membuat jenis wayang kulit untuk pagelaran wayang kulit layar lebar secara lengkap, untuk semua jenis karakter. Seiring dengan semakin mulai berkurangnya pentas-pentas wayang lebar, upaya masyarakat untuk mempertahankan eksistensi seni ini tidak pudar. Dengan dipelopori oleh generasi mudanya, pengembangan seni yang merupakan variasi dari seni wayang tumbuh dengan baik.