Fanny dan Nico, Suami Istri Seniman dari Prancis

Menyusuri keindahan Indonesia seakan tidak pernah ada habisnya. Setidaknya itulah yang kami pikirkan selama perjalanan kedua kami kali ini. Ada banyak tempat yang kami kunjungi dan tentunya  banyak cerita yang ingin kami bagi untukmu.

Perkenalkan, namaku Nicholas Way. Kalian bisa memanggilku Nico. Aku bekerja sebagai pelukis di kota Bordeaux, Perancis. Dan ini istriku, Fanny Luxe. Dia seorang pemain marionette, sebuah boneka yang digerakkan dengan tali dan biasanya dipertunjukkan untuk anak-anak di Eropa. Mungkin kalian bertanya-tanya, apakah kami seniman? Tepat sekali, kami memang seniman. Aku membuat bermacam lukisan untuk banyak tempat di kotaku, sementara Fanny, dia menghibur anak-anak di rumah sakit dengan marionette dan boneka bayangan.  Ah iya, aku melihat bahwa boneka bayangan Fanny agak mirip dengan Wayang. Mungkin tidak benar-benar mirip juga, karena boneka Fanny lebih sederhana. Fanny hanya membuat bentuk seperti binatang dan aktivitas manusia sehari-hari lalu ia mainkan dengan memanfaatkan pantulan bayangan bonekanya. Sedangkan wayang? Luar biasa. Kami benar-benar tidak menyangka bagaimana orang Indonesia bisa berpikir untuk membuat karakter seperti itu. Sungguh mengagumkan.

Berbicara tentang wayang, Fanny juga tau tentang wayang. Hal inilah yang membuat kami merencanakan perjalanan ke Indonesia tahun ini. Bisa kalian bayangkan bagaimana perasaan Fanny? Dia sangat senang sekali! 4 bulan sebelumnya, kami sudah menemukan referensi kemana kami harus pergi. Namanya Kampung Wayang Kepuhsari. Dari informasi di internet , kami bisa melakukan banyak hal di sana termasuk belajar membuat wayang.  Aku merasa bahwa ini benar-benar tempat yang tepat dan mulai mencari tau dimana letaknya dalam peta Indonesia. Dan aku sedikit lega, setidaknya tempat itu bisa dijangkau dari bandara terdekat di kota Yogyakarta. Tidak terlalu jauh dan aku yakin akan sangat menyenangkan.

Kami memulai perjalanan pada bulan Februari 2018. Tanpa diduga, kami memiliki satu peserta tambahan di perut Fanny. Ya, Fanny mengandung. Awalnya aku ingin membatalkan perjalanan, tapi Fanny meyakinkan bahwa dia dan anak kami baik-baik saja. Melihat semangatnya, aku memutuskan untuk re-schedule beberapa tujuan untuk penyesuaian. Dan tentu saja, Kampung Wayang Kepuhsari harus tetap ada di dalam daftar perjalanan kami.

Menuju Kepuhsari

Kami tiba di Yogyakarta pada tanggal 4 Februari 2018. Rupanya Fanny mempersiapkan banyak hal selama singgah di kota ini, salah satunya adalah membeli berbagai macam alat tatah di Yogyakarta. Berkali-kali aku memandangi alat ini. Bentuknya hampir seperti sumpit besi, tetapi tidak terlalu panjang dengan ujung yang berbeda-beda. Ada yang pipih, setengah lingkaran, cekung, dan lain lain. Aku benar-benar berpikir bagaimana cara menggunakannya karena bentuknya yang benar-benar asing.

Pagi harinya, kami memutuskan untuk berangkat ke Kampung Wayang Kepuhsari. Aku dan Fanny menaiki Trans Jogja menuju sebuah terminal bus bernama Giwangan. Menurut sumber yang kami baca, kami harus naik bus ke daerah Semin, Gunung Kidul dan selanjutnya menggunakan jasa ojek. Setelah berbicara dengan petugas, kami diarahkan untuk naik sebuah bus lokal. Aku sendiri sangat menikmati perjalanan ini, begitupun Fanny. Banyaknya pepohonan hijau di kanan kiri jalan mengingatkanku pada Bordeaux yang terkenal dengan banyaknya tanaman anggur dan produksi wine-nya. Tak berapa lama, bis yang kami tumpangi berhenti. Kami berpikir bahwa ini sudah sampai. Aku mencocokkan catatanku dengan petunjuk daerah di sekitar. Aku melihat kata Pracimantoro. Tapi sepertinya bukan. Harusnya Kepuhsari Manyaran. Aku mencoba bertanya pada petugas, tapi sayang petugas itu tidak paham bahasa Inggris yang aku gunakan dan dengan bahasa tubuhnya, dia menyuruh kami pergi.

Aku berpikir keras bagaimana caranya untuk sampai ke Kepuhsari. Aku sedikit lega ketika melihat tulisan bahwa Pracimantoro termasuk dalam wilayah Wonogiri yang berarti bahwa Kepuhsari tidak berada jauh dari sini. Aku mencoba lagi untuk bertanya kepada orang sekitar tentang Kepuhsari, tentunya dengan menunjukkan nama dan gambar karena masyarakat disini tidak terlalu paham bahasa Inggris. Akhirnya seseorang mengerti bahasaku, kami bisa menyewa sebuah mobil untuk sampai di Kepuhsari. Tapi lagi-lagi kami tidak sampai ke Kepuhsari. Kami diturunkan di sebuah bengkel dan bertemu seorang anak yang ternyata dia tidak bisa mendengar. Ketika aku menuliskan kata Kampung Wayang Kepuhsari, dia hanya mengangguk dan menunjukkan arah dengan telunjuknya. Sepertinya dia paham bahwa aku tidak mengerti, dia lalu menghidupkan sepeda motor dan dengan isyarat menyuruhku duduk sementara Fanny ikut dengan teman anak itu.

Kampung Wayang Desa Kepuhsari, Akhirnya.

Sepanjang perjalanan aku hanya berharap bahwa ini akan sampai dengan segera. Aku merasa bahwa Fanny mulai lelah. Tiba-tiba aku mengenali sebuah gerbang yang bertuliskan “Kampung Wayang Kepuhsari”. Kali ini aku benar-benar lega. Tak berapa lama kemudian anak itu menurunkan kami di sebuah rumah tradisional Jawa dan berbicara dalam bahasa isyarat dengan seorang perempuan yang akhirnya kuketahui bernama Bu Retno. Rupanya, Bu Retno adalah salah satu pengelola Kampung Wayang Kepuhsari. Bu Retno sangat ramah, dia berbicara bahasa Inggris dengan kami. Meskipun tidak lancar, kami sangat tersanjung karena keramahan beliau.

Bu Retno kemudian mengajak kami duduk di rumah paling utara. Pemilik rumah ini adalah seorang penatah wayang bernama Pak Sutar. Ketika kami datang, Pak Sutar sedang membuat sebuah tokoh raksasa. Fanny sangat senang, dia tidak beranjak dari kursi dan terus memperhatikan bagaimana cara Pak Sutar menatah. Pak Sutar menawarkan Fanny untuk belajar menatah. Tentu saja Fanny sangat senang. Dengan bahasa Inggris yang terbatas, Pak Sutar mulai mengajari Fanny. Beberapa kali kami tertawa  bersama dikarenakan keterbatasan bahasa yang kami semua miliki. Tapi Pak Sutar terlihat bersemangat, meskipun terkadang beliau mencampurkan beberapa bahasa lokal yang kami tidak paham tetapi akhirnya tertawa juga karena beliau menjelaskannya dengan bahasa tubuh yang lucu.

Tak berapa lama kami disuguhkan makanan khas Kampung Wayang Kepuhsari. Ada teh dan beberapa kudapan lokal seperti gorengan dan keripik ketela. Aku berinisiatif menjelaskan maksud kedatangan kami. Bu Retno paham dan kemudian menawarkan beberapa paket wisata yang ada. Aku dan Fanny memilih paket wisata Pandawa yang termasuk diantaranya adalah paket menginap 3 hari 2 malam di homestay sekaligus belajar seluruh kesenian yang ada. Tak lupa, ada seorang guide yang disiapkan khusus untuk kami. Namanya Ayu. Dia sangat pandai berbahasa Inggris. Ayu adalah adik dari salah satu penatah wayang juga di kampung ini yang bernama Mas Wawan. Menyenangkannya, kami bertemu juga dengan Mas Wawan. Beliau sangat ramah. Satu hal yang selalu kami sukai dari Indonesia. Keramahannya sungguh luar biasa.

Malam pertama kami di sini sungguh menyenangkan. Di sore hari kami bertemu dengan Shinta dan Bagus. Dua orang pemuda yang mengajak kami untuk ikut merasakan secara singkat bagaimana bermain gamelan. Shinta mengajari Fanny bagaimana bermain Bonang. Sementara itu aku belajar dengan Bimo dan Pak Joko, anak dan suami Bu Retno tentang bagaimana bermain Kendang. Selain itu, mereka juga melakukan sebuah pertunjukan kecil tentang musik kesenian Reog. Aku dan Fanny sangat menikmati sekali. Terlebih aku juga bisa merasakan bagaimana menjadi seorang Pujangganom, salah satu tokoh dalam kesenian Reog dengan cara menari dan memakai topengnya yang mirip seperti wajah raksasa.

Workshop Tatah Sungging

Hari kedua kami di Kampung Wayang Kepuhsari, kami diajak Ayu dan Bu Retno untuk mengikuti workshop Tatah Sungging. Pak Sutar yang akan menjadi guru kami hari ini. Kami diajarkan banyak hal secara detail. Mulai dari cara memegang alat yang benar, fungsi masing-masing alat, hingga menatah kulit menjadi bentuk tokoh wayang. Disini kami mengetahui bahwa kulit yang digunakan untuk membuat wayang adalah kulit sapi, sementara tangkainya berasai dari tanduk kerbau. Selain itu kami juga memahami bahwa proses melubangi kulit dengan alat tatah disebut menatah, sedangkan mewarnai kulit disebut sungging.

Kali ini aku dan Fanny berkesempatan membuat tokoh wayang Semar. Melihat Pak Sutar menatah, awalnya aku berpikir hal ini akan mudah, tetapi ketika mencoba aku baru tahu bahwa menatah cukup sulit juga. Butuh perpaduan antara presisi, kekuatan tangan, dan fokus yang tinggi. Tak heran apabila harga wayang dari tempat ini cukup mahal. Dari cerita Ayu aku mengetahui bahwa Kepuhsari sangat terkenal dengan kerajinan wayangnya. Tingkat kerapian, kualitas bahan, dan nama besar Kepuhsari sebagai daerah perajin wayang terbaik menjadikan produk wayang yang ada diminati oleh banyak dalang besar bahkan hingga ke mancanegara. Tidak hanya itu, bulan lalu Kepuhsari juga mendapat kehormatan membuat souvenir undangan bagi negara-negara di Asia dalam rangka pesta Olahraga Asian Games. Sungguh sebuah prestasi yang membanggakan.

Selesai dengan kesenian Tatah Sungging, siang harinya kami berkesempatan untuk belajar kesenian Lukis Kaca. Kali ini kami berkesempatan belajar dengan Bu Retno langsung. Bu Retno mengajak kami untuk melukis Rama dan Shinta, dua tokoh wayang dari Epos Ramayana. Teknis lukis kaca ini memberikan pengalaman baru terutama untukku. Perpaduan karakter lokal dengan bakat menghasilkan sebuah karya lukis yang bisa bercerita tentang keagungan sebuah budaya.

Hari ketiga, kami diajak untuk menyaksikan pertunjukan wayang yang sebenarnya. Sayangnya, pertunjukan wayang kali ini dilakukan dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Meskipun tak sepenuhnya paham, kami sangat mengagumi pertunjukan yang ada. Fanny sangat senang, dia seperti melihat pertunjukan boneka bayangannya di Bordeaux tetapi dalam bentuk yang lebih detail dan iringan musik tradisional. Kerjasama pemain musik dengan alat yang sedemikian banyaknya dan kemampuan dalang dalam membawa cerita sangat patut diapresiasi.

Kami Belum Ingin Pulang

Harusnya ini adalah hari terakhir kami. Tapi sayangnya Fanny dan aku belum ingin pulang. Kami ingin menambah sehari lagi pengalaman kami di tempat ini. Cerita tentang keunikan pasar tradisional berhasil menahan kami untuk tinggal lebih lama di Kepuhsari. 3 hari tinggal di tempat ini kami merasa benar-benar nyaman. Banyak pengalaman hidup serta hal-hal lucu yang kami temui.

Aku jadi teringat tentang cerita Fanny. Ada seorang nenek nenek yang meneriaki Fanny ketika Fanny ingin pergi membeli sabun ke warung. Awalnya Fanny takut, tapi kemudian dia tertawa. Rupanya nenek itu mengira bahwa Fanny tersesat dan tidak tahu arah pulang sehingga meneriakinya untuk kembali. Dikarenakan tidak bisa bahasa Inggris, nenek itu berteriak dalam bahasa Jawa dan melambaikan tangannya ke Fanny dengan maksud mengajak kembali. Ada lagi seorang ibu-ibu yang mengetahui bahwa Fanny sedang hamil muda. Dikarenakan beberapa bagian dari homestay kami sedikit licin, dia memperingatkan Fanny agar tidak jatuh terpeleset. Lagi-lagi dikarenakan keterbatasan bahasa, ibu tersebut memperingatkan Fanny dengan kalimat “Miss, be careful. Kegeblak.” yang kegeblak sendiri merupakan kata dari Bahasa Jawa yang berarti jatuh. Sungguh kami benar-benar merasa bahwa orang-orang disini sangat peduli kepada kami meskipun kami adalah orang asing.

Hari terakhir kami disini, rasanya masih seperti tidak ingin pergi. Aku sangat menikmati pagiku dengan tidur di kursi kayu rumah Pak Sutar hingga kemudian suara Bu Retno menyadarkanku bahwa kami sudah harus pergi karena terbatasnya jadwal transportasi. Setelah berpamitan, kami pun diantar hingga tempat pemberhentian bis di daerah Cengkal. Bu Retno, Pak Joko, Pak Sutar, Pak Wawan pun ikut serta mengantarkan kami. Tak lupa kami foto bersama sebagai pengingat bahwa segala kenangan baik akan terus ada. Terimakasih Kepuhsari, cerita tentangmu akan abadi.

Au revoir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *